Persembahan Dicerna Melalui Latihan
Ada hal lain yang perlu dipertimbangkan setelah ajaran kemarin tentang makanan harum dari Tanah Buddha Akumulasi Wangi. Saat kita makan nasi, tubuh mencernanya, dan saat kita sakit, kita minum obat. Obat pun bisa dikatakan dicerna hanya jika ia telah melakukan tugasnya dan memenuhi perannya.
Persembahan yang harum dapat dipahami dengan cara yang sama. Menerima suatu persembahan tidak otomatis menjadikannya pahala. Hanya ketika orang yang menerimanya berlatih dengan benar dan mengubah kebaikan yang diterima kembali menjadi kekuatan praktik, barulah persembahan itu benar-benar dicerna.
Dalam makna mendalam kitab suci, ini menunjuk pada keadaan tinggi seperti pencerahan sempurna atau tahap bodhisattva yang tinggal satu kehidupan lagi menuju Kebuddhaan. Dengan kata lain, makanan harum bukanlah makanan untuk dinikmati begitu saja; ini adalah persembahan yang harus dipikul dan dicerna sepenuhnya oleh seorang praktisi yang berjalan menuju pencerahan.
Karena itu, seorang praktisi tidak boleh berhenti pada keadaan dilayani. Tanpa menganggap ringan persembahan dan kebaikan, kita harus membina diri melalui sila, ketekunan, dan kebijaksanaan, lalu mengubah apa yang telah kita terima menjadi pahala dalam hidup kita sendiri.
Hari ini, renungkan bantuan dan kebaikan yang telah Anda terima. Jangan mengonsumsinya sebagai sesuatu yang sudah semestinya. Jadikanlah itu kekuatan untuk hidup lebih benar dan berlatih lebih dalam. Ketika kita melakukannya, persembahan yang kita terima dicerna menjadi pahala yang mencerahkan kehidupan.
Menerima suatu persembahan tidak serta merta menjadi pahala. Sama seperti makanan dan obat-obatan harus dicerna dengan baik di dalam tubuh, kebaikan dan persembahan yang kita terima juga dicerna ketika diarahkan ke praktik yang benar dan jalan pencerahan. Jangan gunakan apa yang telah Anda terima sebagai hal yang biasa; dengan ketekunan dan kebijaksanaan, jadikanlah itu menjadi pahala.